Kamis, 08 April 2021

Memahami Lebih Dekat Tentang Rapid test Antibodi dan Rapid Test Antigen Bersama SehatQ.com

Sudah setahun ini wabah pandemi Covid-19 melanda dunia, dengan angka mortalitas yang terbilang tinggi. Segala upaya telah dilakukan oleh pemangku kebijakan, tenaga kesehatan, media massa seperti SehatQ serta lapisan masyarakat lainnya untuk menekan laju morbiditas dan mortalitas. Upaya ini dapat meliputi gaungan dan pengaplikasian untuk mencuci tangan 6 langkap, social distancing, menghindari kerumunan, stay at home, rapid test hingga vaksin covid-19 yang telah diserukan pada tingkat nasional.

 


Salah satu upaya pemerintah untuk menekan persebaran Covid-19 ini yaitu dengan mewajibkan calon penumpang untuk melakukan rapid test ketika hendak berpergian jauh menggunakan kereta, pesawat dan transportasi lainnya. Rapid test dapat dilakukan di tempat yang menyediakan layanan rapid seperti rumah sakit, puskesmas, klinik hingga bandara dan stasiun.


Rapid test atau tes cepat atau uji cepat merupakan pemeriksaan yang bertujuan untuk screening awal virus corona dengan hasil tesnya lebih cepat keluar dibandingkan dengan swab test. Pemeriksaan ini pun dari segi biaya lebih murah dibandingkan dengan swab test.

 

Pemeriksaan rapid test di Indonesia terbagi menjadi dua, yaitu rapid test antibodi dan rapid test antigen. Walaupun sama-sama termasuk ke dalam test cepat atau rapid test, keduanya tes tersebut tentulah berbeda karena memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

 

Rapid test Antibodi

 

Rapid test antibodi merupakan jenis tes cepat Covid-19 yang menggunakan jenis sampel tes berupa darah manusia. Tes ini merupakan salah satu jenis tes yang paling umum digunakan atau dipilih masyarakat untuk memeriksa Covid-19 dan sebagai screening awal untuk mengetahui adanya orang yang terindikasi Covid-19.

 

Seseorang yang terinfeksi Covid-19 akan menghasilkan antibodi pada tubuhnya dalam rentang waktu berkisar antara hitungan hari hingga minggu. Berdasarkan hasil penelitian menjelaskan bahwasannya sebagian besar pasien Covid-19 akan muncul respon antibodi dengan tingkat paling tinggi pada minggu kedua setelah terinfeksi Covid-19. Kekuatan respon setiap orang yang terkena Covid akan berbeda-beda karena ada faktor lain yang mempengaruhi seperti usia, penyakit bawaan, nutrisi dan lain sebagainnya.

 

Rapid Test Antigen

 

Bebeda dengan rapid test antibodi yang menggunakan darah sebagai sampel tes, rapid test antigen menggunakan sampel lendir dari dalam hidung ataupun belakang kerongkongan sebagai sampel test untuk mendeteksi adanya antigen Covid-19. Antigen merupakan protein yang dikeluarkan virus, termasuk virus corona. Antigen ini dapat terdeteksi apabila terjadi infeksi yang sedang berlangsung dalam tubuh manusia.

 

Kekurangan Rapid test Antibodi dan Antigen

 

Kekurangan rapid test antibodi maupun antigen ini sama-sama tidak dapat memberikan hasil yang akurat dibandingkan dengan tingkat keakuratan swab test. Metode rapid test antibody hanya memiliki akurasi sekitar 18%. Angka tersebut dinillai masih sangat rendah untuk mendeteksi Covid yang ada dalam tubuh manusia.

 

Sedangkan rapid test antibodi memiliki nilai akurasi yang lebih akurat dibandingkan dengan rapid test antigen, yaitu mencapai 97%. Walaupun tinggi angka tersebut tidak dapat menjadikan hasil final ketika ada kasus reaktif karena rapid test antibodi dapat menghasilkan positif palsu sehingga butuh pemeriksaan lanjutan berupa Swab PCR.

 

Upaya preventif awal yang dapat dilakukan selain dengan rapid test secara rutin yaitu dengan vaksinasi covid-19. Vaksinasi bertujuan untuk memberikan vaksin atau antigen yang dapat merangsang pembentukan daya tahan tubuh atau sistem imun di dalam tubuh manusia.

 

Pelaksanaan vaksinasi diharapkan dapat memberikan kekebalan yang optimal dan meminimalisir terkena Covid-19. Efek samping vaksin covid 19 yang paling umum dapat berupa demam, batuk kering, mengantuk, pusing hingga kelelahan. Untuk info lebih lanjut seputar rapid test dan vaksin Covid-19 dapat diakses melalui laman SehatQ.